Pemakaman Unik di Desa Trunyan, Kintamani, Bangli
"Tradisi Pemakaman di Desa Trunyan memang sangat melegenda. Banyak turis yang datang ke Desa ini untuk membuktikan cerita bahwa mayat yang tidak dikubur tidak akan berbau busuk ketika diletakkan di bawah pohon Taru Menyan."

~3 - 5 Jam
Pagi hari (08:00 - 10:30)
Pusat Bali Denpasar / Akses Transit Utama
Tampat Yang Masih Alami
Untuk sampai ke tempat pemakaman kita harus menuruni bukit dari Kintamani lalu lanjut dengan menyeberangi Danau Batur menggunakan kapal boat, dengan biaya kurang lebih 100 ribu per orang kalau mau lebih murah, kita bisa tunggu rombongan lain dan naik dalam satu perahu menuju Desa Trunyan. Memasuki wilayah kuburan, kita dikenakan biaya 10 ribu per orang. Yang pertama saya liat setelah masuk kuburan, adalah pohon yang kalau tidak salah itu pohon Trunyan (Taru Menyan) yang satu - satu nya pohon di Dunia. Pohon ini yang membuat dimana mayat hanya diletakkan begitu saja tanpa dikubur dan tidak berbau hingga menjadi tulang belulang. Ketika saya datang, ada mayat yang berusia masih 4 hari dan ada tengkorak kepala yang di susun di atas tanah. Jangan kaget juga, banyak tulang -tulang mayat berserakan, jujur saya tidak suka berlama - lama disana karna hawa nya misti banget. Namun kita dapat banyak pelajaran mengenai prosesi adat kematian lokal bali yang sangat menarik dan unik.
Usia pohon diperkirakan berusia ribuan tahun Kerennya, pohon di pemakaman Trunyan konon sudah berusia ribuan tahun. Dan dibawah pohon inilah, mayat-mayat berada. Masyarakat mempercayai bahwa bau busuk dari mayat sudah terserap oleh pohon ini.
Hal ini masih merupakan kepercayaan masyarakat adat Desa Trunyan dan belum bisa dibuktikan dengan penelitian. Namun uniknya, meskipun begitu faktanya tidak bisa dibantah, bahwa mayat yang ada di sini tidak pernha berbau busuk.
Jadi, cerita awal mula masyarakat Trunyan memulai tradisi ini berawal dari warga yang mencium bau harum yang sangat menyengat. Konon, bau harum itu berasal dari pohon Taru Menyan. Saking harumnya, banyak penduduk yang sakit dan mengalami pilek.
Lalu, masyarakat memutuskan untuk mengurangi harum menyengat itu dan tidak menganggu penduuk, maka diputuskan bahwa tempat tersebut di jadikan area pemakaman warga desa Trunyan.
Dimakamkan di sini ada syaratnya
Bagi mayat yang akan dimakamkan di sini, ada syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Masyarakat memiliki tradisi sendiri yang harus dipatuhi. Ketentuannya adalah bahwa mayat yang ditaruh di dekat pohon Trunyan tersebut tidak boleh melebihi dari 11 jenazah.
Ketentuan lainnya adalah bahwa mayat yang diletakkan di bawah pohon haruslah yang mati wajar, serta sudah pernah menikah.
Jika mayat sudah menjadi tulang belulang, maka akan dikumpulkan di dekat akar pohon Trunyan. Hal ini memberi ruang bagi mayat baru yang akan diletakkan di bawah pohon.
Ada yang disebut sema bantas
Apa itu sema bantas? Adalah tempat pemakan di Trunyan yang dikhususkan untuk pemakaman orang yang mati tidak wajar, seperti kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh. Mayat-mayat ini tidak boleh di letakkan di dekat pohon trunyan, harus dimakamkan di tempat lain yang disebut Sema Bantas.
Ada sema muda
Jika sema bantas di khususkan untuk yang mati tidak wajar, maka sema muda dikhususkan untuk yang bayi dan anak-anak yang meninggal. Tempat ini juga jadi pemakaman bagi orang dewasa yang belum menikah. Berbagai tempat pemakaman ini dibedakan berdasarkan hukum adat dan kaidah dari Desa Trunyan yang berlaku.
Demikianlah Tradisi Pemakaman di Desa Trunyan yang sangat unik. bagi yang penasaran, di agenda liburan mendatang, cepat-cepat menyaksikan sendiri tempat pemakaman ini, dan siap-siap tercengang dengan keajaiban yang ada di desa Trunyan, Bali.
Cerita ini dikurasi dan diverifikasi sesuai Standar Pedoman Komunitas & Editorial PT Locallytrip Teknologi Indonesia.
Beri inspirasi ke sesama traveler! 🌍
Bagikan cerita otentik ini ke media sosial favoritmu dalam sekali klik.